BAGAIMANA JIKA HANYA NAFSU ?

  Setelah sekian lama, akhirnya saya sampai pada titik ini. Dimana saya benar-benar haus. Haus untuk mempelajari banyak hal. Kehabisan kata untuk mengungkapkannya, tetapi akan saya coba untuk menguraikannya perlahan.
  Buku merupakan salah satu alat paling mudah yang benar-benar membantu saya untuk memahami tafsir dan pendapat dari penulisnya. Apapun yang ia tuliskan didalamnya, baik berdasarkan penelitian ataupun pengalaman pribadi, bahkan dari hasil mengarang sekalipun. Selain itu buku juga sebagai jurang yang bisa melemahkan saya untuk merelakan diri jatuh jauh kedalamnya,tanpa harus takut untuk mati kemudian hidup kembali setelahnya. Seolah olah buku adalah jurang dengan pintu menuju ruang dan waktu yang lain, hampir terasa begitu nyata.
  Kemudian perjalanan saya dimulai. Membuka tiap lembarannya, berusaha memahami apa yang saya baca dan berusaha untuk tetap sadar agar semuanya dapat dicerna dengan baik. Sesekali saya menuliskan catatan atau kesimpulan dari bacaan tersebut. Menuliskannya dengan cara saya sendiri. Mencoba untuk tidak menelan mentah dari apa yang sudah saya baca, mengutip kata-kata yang belum saya mengerti. Kemudian menyimpulkannya sendiri dengan yang sekiranya akan lebih mudah untuk saya pahami.
  Hasil dari membaca berbagai buku tersebut juga sangat membantu saya di kehidupan sehari-hari. Saya, dan mungkin anda juga seringkali dihadapkan dengan masalah ataupun kondisi yang tidak terduga. Sekali lagi buku beserta dunia di dalamnya sangat membantu saya untuk menghadapi situasi sedemikian rupa. Seolah-olah setiap buku yang saya baca memang ditujukan untuk mempersiapkan kaliber perang dengan situasi dan kondisi yang tidak terduga yang datang dan saya alami.
  Tetapi permasalahannya buku hanya berarti setetes air untuk rasa haus itu.
Terlalu banyak buku diluar sana. Hasrat untuk menjelajahi keindahan ilmu dari hanya sebuah buku tidak akan terpenuhi.Walaupun faktanya memang kita tidak akan pernah merasa cukup dan benar-benar rela berhenti untuk mencari ilmu.
  Walaupun begitu, buku menjadi sangat memiliki arti untuk saya sendiri, mereka seperti benar-benar hidup. Memiliki jalannya sendiri untuk berbagi. Seperti halnya manusia. Sebenarnya saya juga belum begitu mengenal diri saya sendiri dengan baik. Entah sadar atau tidak,saya merasa benar-benar terhubung dengan setiap interaksi yang saya lakukan dengan orang lain. Bahkan dengan setiap benda ataupun alam sekitar. Saya masih dan akan tetap haus tentang semua ini. Setidaknya mempercayai sesuatu yang kita anggap benar akan cukup membantu.
  Tulisan ini terasa tidak begitu nyaman. Tapi ini tidak karena terpaksa. Saya hanya merasa,mungkin menulis menjadi salah satu jalan keluar untuk rasa haus itu. Mencoba menguraikan isi di dalam pikiran. Mengkalimatkannya secara bebas. Mencoba berada pada realitas. Jelas, saya sedang sangat bingung. Untuk mengerti apa yang benar-benar sedang terjadi dan menyikapinya.
  Saya haus akan sesuatu yang dirahasiakan. Akan segala sesuatu dari akal pikiran manusia. Akan alam yang senantiasa jujur pada setiap makhluk. Saya harus lebih baik dari ini. Hal ini juga mengingatkan saya tentang istilah jawa "urip iku mung mampir ngombe" hidup itu hanya mampir minum. Maka apa sebenarnya yang ada dalam rasa haus ini harus diselesaikan dengan baik, benar, pantas, dan tepat. Tapi bagaimana jika ini hanya nafsu ?

No comments:

Post a Comment